Showing posts with label Sosok Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Sosok Inspiratif. Show all posts

Tuesday, October 21, 2025

Sosok Inspiratif | Bamby Cahyadi: Cerpenis Flamboyan dan [Mantan] "Penjaga Gawang" Grup FB Sastra Minggu



Kali ini tim redaksi mewawancarai salah satu tokoh penulis (cerpenis) yang konon sosoknya selama ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia informasi pemuatan karya sastra di media massa setiap minggunya sejak belasan tahun lalu yang mungkin sangat terasa manfaatnya bagi para penulis se-Indonesia, bahkan menjadi salah satu ruang silaturahmi terbesar grup sastra yang ada. Kalau Anda aktif menulis di media, pasti tidak asing dengan beliau. Siapa beliau? Ya, beliau Bamby Cahyadi. 


Bamby Cahyadi lahir di Manado, 5 Maret 1970. Ia menulis berbagai tema cerita pendek di koran, majalah, tabloid, dan media daring. Sehari-hari Bamby bekerja di industri Food and Beverages (F&B). Buku-bukunya yang telah terbit: kumpulan cerpen Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012), Perempuan Lolipop (Gramedia Pustaka Utama, 2014), Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Unsa Press, 2016), Seminar Mengatasi Keluhan Pelanggan (Diva Press, 2022), dan buku terbarunya Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang (Diva Press, 2025). Ia bisa ditemui di Instagram, dengan akun: @bamby_tjahjadi


Dulur NGEWIYAK, yuk kita tanya-tanya beliau!


_________


1. Sejak kapan Mas Bamby menulis dan mengapa bercita-cita menjadi penulis?


Sebenarnya saya menulis sejak SMA, kala itu lebih banyak menulis reportase kegiatan sekolah untuk Majalah Dinding dan Majalah OSIS SMA Negeri 1 Tasikmalaya. Lalu ketika saya kuliah di Universitas Siliwangi Tasikmalaya, saya mengaktifkan Majalah Kampus Fakultas Ekonomi dan Majalah Universitas, dikarenakan saya menjabat sebagai Pemred Majalah Fakultas dan Universitas sekaligus ketua Unit Pers Mahasiswa plus Ketua Senat Universitas (SMPT) juga, maka saya cukup rajin menulis. Namun semua tulisan saya pada masa itu berupa reportase dan artikel ringan. Saya pun cukup rajin mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media, seperti: Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Simponi, Femina, dll.

Dulu saya bercita-cita menjadi wartawan (bukan penulis). Usai wisuda, saya lebih sering memasukkan CV saya ke media-media massa di Bandung dan di Jakarta. Hingga akhirnya saya menjadi reporter Majalah Pramuka Kwartir Nasional di Jakarta.


Saat menjadi reporter Majalah Pramuka, saya mendapat penugasan untuk mencari iklan dari sebuah restoran cepat saji yang sedang berkembang pesat di Jakarta khususnya, alih-alih mendapatkan iklan untuk majalah, saya malah tertarik dengan iklan lowongan pekerjaan yang dibuka oleh perusahaan restoran cepat saji itu. Singkat cerita, saya akhirnya menjadi Trainee Manager di perusahaan itu.


Bertahun-tahun bekerja di industri restoran cepat saji yang penuh target dan tekanan, membuat saya depresi, saya mengalami masa-masa krisis kejiwaan yang cukup akut dengan keinginan untuk mati atau bunuh diri, dan menjadi gila saja. Pelbagai pengobatan medis dan alternatif saya lalui untuk menyembuhkan kondisi psikis saya yang terganggu, namun tidak berhasil.


Hingga suatu hari pada masa itu, untuk mengalihkan pikiran-pikiran negatif serta bisikan-bisikan aneh yang bergejolak di benak, saya mulai membaca buku-buku lagi. Terutama buku yang berhubungan dengan psikologi, yang paling saya ingat ialah buku karya Prof. Komaruddin Hidayat berjudul Psikologi Kematian. Lalu mencoba membaca karya fiksi, waktu itu novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang Best Seller.


Membaca buku, baik buku nonfiksi dan fiksi, melempar ingatan saya pada masa saya masih menjadi mahasiswa dan menggugah saya untuk menulis kembali. Saya mencoba menulis lagi apa yang menjadi gangguan terhadap pikiran-pikiran saya. Beruntungnya masa itu terdapat media sosial bernama Friendster (FS). Saya posting tulisan-tulisan saya di fitur Miniblog Friendster. Sambutan teman-teman FS yang membaca tulisan saya di FS cukup baik, akhirnya saya rajin menulis semacam catatan harian di FS. Kadang catatan harian tersebut saya balut dengan imajinasi dan menyerupai karya fiksi. Saya pun rajin membaca tulisan-tulisan penulis (Sastrawan Indonesia) yang diposting di FS, dan tentu saja menjadi follower mereka. Hingga saya mengenal seorang perempuan penulis novel berjudul Ripta, yang memotivasi saya mencoba menulis sastra (cerpen).


Menulis cerpen membuat saya ketagihan dan mejadi semacam pengalihan akan pikiran-pikiran serta bisikan-bisikan negatif dalam kepala saya. Kegiatan menulis cukup berhasil mengatasi masalah psikis saya. Itulah mengapa, cerpen saya pada masa awal menulis (mungkin hingga kini), bertema kematian dan absurditas melulu.


__________


2. Pernahkan Mas Bamby mengalami krisis identitas sebagai penulis? Misalnya yang mulanya produktif tiba-tiba mandek dan merasa diri kebingungan harus melakukan apa. Bagaimana menghadapi situasi semacam itu?

Kerap, mungkin hampir ada di setiap periodesasi kehidupan sebagai penulis, saya mengalami krisis identitas. Apalagi sampai saat ini, saya masih bekerja di dunia Food & Beverages (F&B), yang menuntut rasionalitas. Absurditas, keanehan pikiran, atau bahkan imajinasi tidak akan berlaku di tempat kerja saya. Terkadang saya ingin pensiun saja menjadi penulis, dan menjalani profesi di industri kuliner ini dengan tekun. Namun tiap saya punya rencana itu, tiap saat itu juga ada momentum untuk tetap menulis.


Untuk menghadapi situasi mandek atau ingin pensiun, yang saya lakukan ialah kembali ke buku. Menyempatkan mampir ke perpustakaan atau toko buku. Membeli buku-buku fiksi terbaru, membacanya, dan akhirnya termotivasi lagi menulis. Lantas menerbitkan buku baru, seperti saat ini, buku kumpulan cerpen terbaru saya yang berjudul Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang terbit ketika saya memutuskan nonaktif sebagai admin Grup FB Sastra Minggu.


__________

3. Cerita apa yang paling berkesan ditulis sepanjang karier kepenulisan Mas Bamby? Apa alasannya dan bagaimana proses kreatifnya?


Yang paling berkesan ialah cerpen “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang”. Cerpen ini pertama kali dimuat di Koran Tempo pada 26 Juli 2009. Cerpen ini lantas termaktub dalam buku kumcer ke-2 saya yang berjudul Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (GPU, 2012). Dan, saya memang memiliki impian, suatu saat nanti, apabila ada kesempatan menerbitkan kumcer lagi, cerpen itu akan menjadi judul dari buku kumpulan cerpen. Alhamdulillah menjadi kenyataan.


Proses kreatif cerpen berjudul: “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang”, saya tulis dalam 3 hari berturut-turut (29, 30 Juni, dan 1 juli 2009). Tiba-tiba saya teringat sewaktu kami (saya, ibu saya, kakak saya dan adik saya) mengantar jenazah almarhum ayah saya yang meninggal di Medan untuk dimakamkan di Tasikmalaya. Lalu idenya, saya olah sedemikian rupa, agar tidak terkesan kisah nyata. Ayah saya meninggal 15 Februari 1985. Nah, uniknya, cerpen itu semula, cerpen trilogi, tanggal 29 Juni 2009, saya buat bagian prolognya. Tanggal 30 Juni 2009 saya buat bagian dialognya. dan tanggal 1 Juli 2009 saya buat bagian epilog. Dan, setiap bagian tersebut, saya sempat posting 3 hari berturut-turut di Note Facebook dengan judul “Trilogi Cerpen Mengantar Ayah”. Sungguh di luar dugaan, cerpen itu banyak yang komen di Facebook, bahkan Hudan Hidayat membuat pengantar cerpennya segala. Lantas cerpen itu saya kirimkan ke Koran Tempo, dan dimuat.


___________

4. Mas Bamby kan admin dan pendiri Grup FB Sastra Minggu, boleh tidak Mas Bamby ceritakan sedikit tentang sejarah grup sastra yang cukup besar tersebut? Mengapa Mas Bamby kepikiran membuatnya dan mengapa juga kepikiran harus mengakhirinya?


Dulu sekali, sebelum ada Facebook. Ada situs atau blog pengarsipan cerpen-cerpen yang dimuat di pelbagai media massa di Indonesia, bernama Sriti.com. Namun setelah menerbitkan kumpulan cerpen pilihan Sriti.com berjudul “Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com” pada 2009, situs ini berhenti dan tutup permanen. Banyak penulis yang kehilangan informasi perihal pemuatan karya cerpen khususnya. Secara pribadi saya berniat meneruskan tradisi memberikan informasi pemuatan karya ini (cerpen dan puisi), lantas saya mulai berlangganan kurang lebih 11 koran cetak dan dengan sukarela saya mulai update di status laman FB pribadi saya informasi pemuatan karya hingga 2013.


Nah, ada titik di mana saya pun akhirnya mengakhiri sesuatu yang sudah saya rintis sendiri, dikarenakan kesibukan dengan profesi saya sebagai praktisi di dunia F&B.


Lantas di tahun yang sama (2013), beberapa teman penulis menginformasikan ke saya bahwa mereka telah membuat Grup FB bernama Sastra Minggu untuk melanjutkan tradisi memberikan informasi pemuatan karya, sehingga saya tidak perlu bersusah payah sendirian untuk menginformasi di laman FB pribadi. Saya setuju, lantas kami para admin secara kolektif menjalankan Grup FB Sastra Minggu ini. Hingga akhirnya, saya pun ditinggal sendirian untuk mengelola Grup FB Sastra Minggu, hingga saya putuskan berhenti.


Kenapa saya memutuskan untuk berhenti? Karena saya pikir, masa kini sudah tidak relevan lagi informasi yang berasal dari Grup FB Sastra Minggu itu. Banyak koran cetak yang tidak terbit lagi, diganti media digital yang memudahkan penulis atau siapa pun untuk mendapatkan informasi langsung. Dulu, jumlah visit ke grup mencapai puluhan ribu, like ribuan dan komen ratusan. Semenjak 2024 hingga 2025, grup itu hanya dikunjungi oleh ratusan anggota dan hanya puluhan yang meninggalkan komen. Yang membuat saya malas untuk melanjutkan, karena para penulis yang karyanya dimuat di media massa juga, tidak lagi sengaja dan sukarela dengan senang hati menginformasikan sendiri ke grup. Mereka lebih suka berselebrasi sendiri di laman FB, IG, dan status WA masing-masing. Padahal, kegairahan Grup FB Sastra Minggu adalah keriangan, kebahagiaan, dan kesenangan kolektif pada saat ada karya siapa pun yang dimuat. Bagi saya pribadi, membiru-birukan nama penulis yang karyanya dimuat juga merupakan kebahagiaan tersendiri sebagai si penyampai kabar. Tapi, itu dulu. Sekarang tidak lagi. Maka, dengan tanpa banyak berpikir saya berhenti. Grup itu akan tetap ada, sampai mungkin salah satu admin menutupnya secara permanen.


___________

5. Pertanyaan terakhir, bagaimana sih tanggapan Mas Bamby terhadap dunia kepenulisan hari ini, dunia sastrawan hari ini, dan dunia media sastra hari ini?


Secara teori dan teknis, dunia sastra hari ini makin berkembang dan selalu ada hal-hal baru. Akan tetapi, dunia sastra hari ini, euforianya hanya bisa dirasakan oleh pelaku debut. Atau para penulis yang tetap memelihara euforia itu dengan segenap hatinya. Tidak ada lagi yang menarik dari komunitas-komunitas sastra hari ini, yang isinya ya dia lagi, mereka lagi. Para sastrawan asyik dengan lingkarannya masing-masing, atau dunianya sendiri. Media sastra juga makin ke sini, makin sepi dan miskin. Banyak yang tutup, tidak terbit, lantas hilang begitu saja. Buku yang terbit tetap banyak, namun minat pembeli makin merosot. Penulis harus berjibaku sendiri untuk menjadi sales dari komoditas yang ia ciptakan. Laku syukur, tidak laku tidak apa-apa, yang penting sudah ada batu prasasti karya berupa buku. Tapi itu tidak salah. Mungkin yang salah pemerintah yang hingga kini kepedulian terhadap sastra dan sastrawan hanya mereka ingat ketika kampanye politik saja. Habis itu sastra dan sastrawan bergelut dengan dirinya sendiri.


_________

Tukang nanya: Encep Abdullah


Tuesday, April 29, 2025

Sosok Inspiratif | Asep Saya Hidayatullah | Penggerak TBM Al-Latif Mandalawangi Pandeglang



Asep Saya Hidayatullah, akrab disapa Kang Asep, lahir di Pandeglang pada 17 April 1994. Ia adalah putra keempat dari tujuh bersaudara, tumbuh di lingkungan petani sederhana yang menanamkan pentingnya pendidikan kepada seluruh anak-anaknya. Sejak kecil, Kang Asep telah diarahkan untuk belajar tanpa henti hingga ke jenjang perguruan tinggi.


Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN Curuglemo 2. Setelah lulus, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Munawwarah Cilegon, menyelesaikan pendidikan di MTs, SMA, hingga akhirnya kuliah di STKIP Banten, Serang. Sejak masa sekolah, Kang Asep aktif di berbagai organisasi: Pramuka, OSIS, PMR, Paskibra, hingga menjadi atlet Pencak Silat yang mengharumkan nama pondok pesantren hingga tingkat nasional.


Saat kuliah, jiwa sosialnya terus berkembang. Ia menjadi relawan Korps Sukarela PMI Kota Serang, mendirikan dan memimpin KSR STKIP Banten, ketua pertama Forum Remaja Banten, Founder Gerakan Literasi Masyarakat Pandeglang (GELIMANG) yang dididirikan pada tahun 2022 dan saat sebagai Ketua Forum Kabupaten Pandeglang, dan Pengurus PC GP Ansor Kab. Pandeglang. Setelah lulus, ia mewujudkan cita-citanya sebagai guru di MIN 2 Pandeglang.


Namun, perjuangannya untuk dunia pendidikan tak berhenti di situ. Melihat minimnya fasilitas literasi di kampung halamannya, Kang Asep pun berinisiatif mendirikan sebuah taman bacaan, yang kemudian dinamai TBM Al-Latif Mandalawangi.


Mari berkenalan jauh dengan TBM beliau!



1. Kapan TBM Al-Latif ini didirikan, Kang? Apa latar belakang dan makna filosofis dari nama TBM tersebut?


Taman Bacaan Masyarakat Al-Latif Mandalawangi berdiri pada 27 Oktober 2019. Latar belakang pendirian TBM ini adalah kegelisahan terhadap kondisi literasi di Kampung Cigobang, RT 003 RW 002, Desa Curuglemo, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kesadaran literasi dan fasilitas pendidikan sangat minim, belum ada wadah untuk pengembangan minat, bakat, dan pembinaan karakter masyarakat. Saya berinisiatif mendirikan TBM ini untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan literasi, pendidikan, serta membentuk generasi yang berkualitas.


Makna Filosofis Nama Al-Latif:

  • Al-Latif berarti Maha Lembut. Harapannya, TBM ini dapat membina dan mendampingi anggota/masyarakat dengan kelembutan, tanpa tekanan, sehingga mereka belajar dengan nyaman sesuai karakter dan cita-citanya.

  • Warna dasar putih: Melambangkan kesucian.

  • Lingkaran hitam: Melambangkan ilmu yang luas dan kekal.

  • Pena: Melambangkan bahwa ilmu harus terus dipelajari.

  • Buku: Melambangkan jendela dunia, sumber ilmu pengetahuan.

  • Orang berwarna merah: Melambangkan semangat dalam berliterasi.

  • Orang berwarna ungu: Melambangkan keceriaan dalam berliterasi.

  • Orang berwarna hijau: Melambangkan kedamaian dan keseimbangan dalam pengembangan kemampuan.




2. Apa sih Kang kegiatan unggulan di TBM Al-Latif dan apa dampaknya bagi masyarakat?


Kegiatan Unggulan:

  1. Bimbingan karakter dan budi pekerti.

  2. Diskusi dan sosialisasi minat baca.

  3. Bimbingan belajar keagamaan dan umum.

  4. Pelestarian budaya dan kearifan lokal.

  5. Minggu CERIA (Cerdas, Ceria, Religius): Membaca buku, tahfiz Qur'an, pidato, latihan seni, pencak silat, olahraga, dan hasta karya.

  6. Santunan anak yatim, duafa, dan lansia.

  7. SILATIF (Silaturahmi TBM Al-Latif): Sosialisasi literasi melalui kunjungan ke masyarakat dan lembaga pendidikan.

  8. Gebyar Milad TBM: Peringatan tahunan dengan pentas seni, santunan, diskusi literasi, dan penghargaan untuk anggota berprestasi.

  9. Pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan belajar, sosialisasi, dan kolaborasi dengan sekolah, kampus, dan lembaga lain.

  10. Pembangunan fasilitas masyarakat, seperti sarana air bersih dan tempat wudu.

  11. Peringatan hari besar Islam melalui ngaji bersama dan lomba keagamaan.

  12. Peringatan hari besar nasional seperti upacara kemerdekaan dan lomba nasionalisme.

  13. Saba Petani: Praktik bertani dan sosialisasi literasi di kebun dan sawah.

  14. KOBUKA (Kolaborasi Terbuka): Kolaborasi dengan mahasiswa, peneliti, dan berbagai komunitas.

  15. SEMESTA (Seminar Edukasi Bersama TBM Al-Latif): Edukasi untuk relawan dan masyarakat.


Dampak Sebelum dan Sesudah TBM Berdiri:

  • Sebelum: Minim kegiatan literasi, kurang percaya diri berbicara di depan umum, ketergantungan pada gawai, dan pola belajar yang tidak teratur.

  • Sesudah: Meningkatnya minat baca, keberanian berbicara di depan umum, keterampilan sesuai karakter, banyak prestasi di sekolah, berkurangnya ketergantungan pada gawai, dan tersedianya sumber ilmu.




3. Dalam setiap komunitas, pasti ada problem khusus. Apa kendala TBM ini dan bagaimana cara mengatasinya, Kang?


Kendala:

  • Rendahnya kesadaran literasi masyarakat dan pemerintah.

  • Fasilitas yang belum memadai; kegiatan masih dilaksanakan di teras rumah.


Cara Mengatasi:

  • Membangun silaturahmi dan sosialisasi dengan tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah.

  • Merekrut pengurus dan relawan (RELATIF).

  • Melakukan pembinaan literasi secara berkelanjutan.


Intervensi:

  • Awalnya, masyarakat kurang memahami manfaat TBM dan khawatir dengan kegiatan baru.

  • Namun, setelah berjalan, mereka merasakan dampak positifnya, sehingga perlahan penerimaan masyarakat meningkat.




4. Apa harapan jangka pendek dan jangka panjang TBM ini, Kang?


Harapan Jangka Pendek:

  • Meningkatnya literasi masyarakat.

  • Membuat antologi puisi untuk relawan dan anggota TBM.

  • Dukungan regulasi dan anggaran dari pemerintah untuk kegiatan literasi.


Harapan Jangka Panjang:

  • Membangun saung atau gedung untuk TBM Al-Latif.

  • Memfasilitasi beasiswa bagi anggota TBM.

  • Menyediakan laboratorium komputer untuk literasi teknologi.

  • Meningkatkan program santunan sosial berbasis literasi.




5. Terakhir, mungkin Kang Asep bisa kasih tips dan pengalaman bagi para calon pendiri TBM di mana pun berada!


Banyak orang yang ingin mendirikan TBM merasa terhambat karena tidak ada buku, tempat, atau dukungan. Ingatlah, kegiatan literasi tidak harus bergantung pada fasilitas lengkap. Mulailah dari apa yang ada, misalnya sosialisasi lingkungan. Niatkan dengan sungguh-sungguh, lakukan aksi nyata. Buku dan fasilitas lainnya akan mengikuti seiring perjalanan.


Pesan untuk pegiat literasi:

  • Niatkan hati dengan ikhlas.

  • Bergerak dan jangan berhenti walau menghadapi rintangan.

  • Sabar dan ikuti alur kehidupan seperti menyusun puzzle.

  • Bangun ekosistem positif untuk kesuksesan jangka panjang.

  • Jangan ragu untuk bergerak; lawan keraguan itu!



TBM Al-Latif sangat terbuka untuk semua kalangan, dengan konsep pembelajaran inovatif, kreatif, cinta budaya, kolaboratif, cerdas, ceria, dan religius.


Salam silaturahmi!
Yuk, mampir ke Instagram kami: @tbmallatif


_______

(Penanya: Encep Abdullah)


Tuesday, November 5, 2024

Sosok Inspiratif | Munawir Syahidi | Pendiri Cahaya Aksara


Munawir Syahidi, lahir di Pandeglang tahun 1990 dari keluarga sederhana yang orang tuanya selalu berupaya menyekolahkan anaknya dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. Masa remaja di kampung yang waktu itu belum banyak buku tersedia menjadi ingatan yang membekas sehingga ketika lulus kuliah membuat kegiatan yang bernama Saung Huma (waktu itu). Saat ini tinggal di Kecamatan Cigeulis Pandeglang-Banten.


Oke. Mau tahu lebih banyak tentang beliau? Gaaas!


1. Yang saya tahu, dulu sebelum bernama Cahaya Aksara, komunitas atau taman baca masyarakat (TBM) Anda ini kan bernama Saung Huma ya. Bisa diceritakan sejarahnya? Mengapa bisa berganti nama menjadi Cahaya Aksara? Apa makna dari Cahaya Aksara?


Dulu sejak didirikan tahun 2014 di Cimanggu, tempat kelahiran saya, setiap sore saya mengajak anak-anak untuk membaca dan berkegiatan. Kegiatan yang saya gagas itu bernama Saung Huma, belum ada TBM-nya. Saya tahu ada TBM tahun 2017. Ditelepon oleh Pak Haji Lulu yang waktu itu menjadi Ketua FTBM Pandeglang. Baru kemudian Saung Huma ditambah nama menjadi TBM Saung Huma. Berkegiatan menggunakan nama TBM Saung Huma sampai tahun 2019. Setelahya Saung Huma berubah menjadi Cahaya Aksara.


Berganti nama menjadi Cahaya Aksara lebih pada mencari identitas gerakan, yang ketika orang mengenal nama Cahaya Aksara maka pikirannya langsung berorientasi pada buku, atau membaca buku. Maka, berubahlah nama Saung Huma menjadi Cahaya Aksara. Bagi saya sendiri, Cahaya Aksara adalah inti dari yang saya pikirkan. Semua bermula dari membaca. Aksara adalah perantara. Maka, Cahaya Aksara adalah sesuatu yang baik yang berasal dari aksara.



2. Apa saja sih fokus kegiatan di TBM Cahaya Aksara? Apa program kerja unggulannya?


Dalam visinya, Cahaya Aksara memiliki visi, SDM Unggul berbasis pendidikan vokasi dan literasi. Maka melalui TBM Cahaya Aksara, semoga meningkatkan literasi di masyarakat, juga semoga dapat meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Sementara ini program unggulan kami masih dalam bidang literasi, program mingguan, bulanan dan tahunan, untuk anak-anak dan remaja, dan peningkatan ekonomi masyarakat dengan beberapa kegiatan yang juga masih berbasis buku.



3. Bagaimana cara kerja para pengurusnya? Ya, namanya komunitas pasti ada saja kendala di luar kontrol, kendala yang tak terduga. Bagaimana strategi menghadapi anggota yang hidup segan, mati tak mau itu?


Pengurus ini adalah mereka yang telah mengikuti kegiatan Maraca (Mencari Relawan Cahaya Aksara), sejenis rekrutmen untuk anggota dan pengurus di Cahaya Aksara. Untuk yang tidak aktif, kami tidak pernah fokus pada yang tidak mau aktif, kami memaksimalkan yang mau berupaya. Karena namanya dunia kerelawanan, semakin banyak orang belajar maka semakin tahu. Dengan cara relawan mengikuti kegiatan di TBM Cahaya Aksara maka akan banyak hal yang mereka dapatkan, yang mungkin saja berguna bagi diri mereka sendiri di kemudian hari.



4. Yang saya tahu banyak sekali taman baca yang sekadar formalitas atau musiman saja. Sekali berkegiatan, setelah itu selesai dan mati. Bagaimana dengan Cahaya Aksara dan bagaimana agar tetap bertahan dan konsisten berkegiatan?


Yang musiman itu bagus, setidaknya pernah melaksanakan, daripada yang tidak sama sekali. Ngurus kegiatan yang sifatnya sosial seperti TBM perlu satu atau dua orang yang keras kepala, yang kadang meski sendiri terus diupayakan. Kalau fokusnya pada mereka yang tidak aktif dan kita terpengaruh maka pasti akan tutup. Bukan berarti tidak ada masalah, tapi kami selalu berprinsip jika misalnya relawan tidak ada yang aktif, kegiatan tidak ada yang mengurus, maka kami berkata ini bukan akhir dan tidak boleh diakhiri, hanya perlu evaluasi dan dilaksanakan nanti, perbaiki. Jadi ya di Cahaya Aksara juga sama mengalami hal yang menjenuhkan, membosankan, dll., tetapi terus dilakukan seberapa pun membosankannya.



5. Apa sih harapan dan tujuan besar Anda ke depan untuk Cahaya Aksara dan orang-orang sekitar Anda? Apa mimpi besar yang ada di kepala Anda saat ini?


Harapan besarnya adalah ketika visi Cahaya Aksara itu dapat terwujud, adanya SDM Unggul yang indikatornya ada tiga, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Ketiga indikator itu berjalan membaik maka tujuan dan mimpi Cahaya Aksara itu terwujud.



6. Oh iya, kemarin TBM Cahaya Aksara dapat bantuan dari Badan Bahasa ya? Kegiatan apa yang kawan-kawan lakukan? Bisa diceritakan sedikit proses kronologi bantuan ini dan bagaimana acara selama berlangsung?


Oh iya, kami ikut seleksi, mengumpulkan berbagai persyaratan, portofolio kegiatan setidaknya dua tahun kegiatan kami kirimkan sebagai syarat, belum hal lain yang berkaitan dengan administrasi juga kami lengkapi. Untung kegiatan-kegiatan kami selalu terdokumentasi sehingga kami bisa melengkapi portofolio kegiatan yang pernah kami laksanakan selama dua tahun itu.


Alhamdulillah kami lolos seleksi dan kami laksanakan program tersebut dengan menggagas kegiatan dengan nama KAPL (Kemah Aksi Penggerak Literasi) berisi workhsop dan kegiatan literasi, mendatangkan para pemateri yang luar biasa. Beberapa peserta dalam kegiatan ini menjadi relawan TBM Cahaya Aksara. KAPL berjalan lancar dan membahagiakan. Alhamdulillah.



(Redaksi/Encep)


Tuesday, September 10, 2024

Sosok Inspiratif | Ade Ubaidil | Menjadi Penulis: Semacam Panggilan Jiwa

 


Dalam dunia literasi di Banten, khususnya di Cilegon, siapa yang tidak tahu Ade Ubaidil? Oh, tentu banyak. Haha. Bercanda. Pemuda satu ini gandrung sekali mempelajari banyak hal. Saat ini belio sedang menjalani kuliah S-2 perfilman. Sebuah dunia yang saat ini membuatnya penasaran. 


Ade Ubaidil, dilahirkan di Cibeber, 2 April 1993. Menyelesaikan pendidikan S-1 Jurusan Sistem Komputer Universitas Serang Raya (Unsera). Ia relawan di Komunitas Rumah Dunia dan Pemimpin Redaksi di media daring kurungbuka.com.


Pernah terpilih menjadi salah satu penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017 dan Peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara 2018 kategori cerpen. Ia pernah juga menjadi salah satu Peserta terpilih Akademi Menulis Novel DKJ 2014. Pernah bergiat di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan ke-23, dan alumnus #KampusFiksi angkatan ke-7.


Menulis novel, cerpen, puisi, esai, resensi, naskah skenario. Beberapa karyanya sudah dimuat di berbagai media, baik cetak maupun online seperti: Jawa Pos, Koran Tempo, Kompas.id, Media Indonesia, Femina, Majalah Ummi, Utusan Borneo Malaysia, Radar Banten, Harian Republika, Majalah JAWARA, Majalah MISSI, Haluan Padang, Banten Raya, Inilah Koran (Bandung), Majalah Kandaga, Pikiran Rakyat, dll. Selain itu, beberapa karyanya telah dibukukan dan dimuat di berbagai antologi bersama baik indie maupun mayor.


Menulis banyak buku:


1. Kumpulan Cerpen Air Mata Sang Garuda (AG Litera, 2013).


2. Novel Remaja Kafe Serabi (De TEENS, 2015).


3. Kumpulan Cerpen Mbah Sjukur (Indie Book Corner, 2016).


4. Sehimpun Tulisan Kompilasi Rindu (Gong Publishing, 2016).


5. Novel Remaja Jodoh untuk Kak Gembul (Arsha Teen, 2017).


6. Kumpulan Cerpen Surat yang Berbicara tentang Masa Lalu (Basabasi, 2017).


7. Kumpulan Cerpen Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? (Epigraf, 2019).


8. Cerita Anak Kisah Ubay dan Para Sahabatnya  (Tiga Serangkai/Inti Medina, 2021).


9. Novel Adaptasi Yuni (Gramedia Pustaka Utama, 2022). 


10. Kumpulan Cerpen Sahut Kabut (Indonesia Tera, 2022).


11. Cerita Anak Dwibahasa Yoh, Mangan Sate Bebek! (Kemendikbudristek, 2023).


Sejak 2014, ia mengelola perpustakaan Rumah Baca Garuda yang ia dirikan di dekat rumahnya.


Mau tahu lebih jauh tentang Ade Ubaidil? Yuk, kita kepoin belio!


____________



1. Bang Ade, mengapa Anda memilih jalan hidup menjadi penulis?

Saya senang belajar hal baru. Saya mencoba banyak hal dan saat menekuni dunia kepenulisan, saya merasa ini semacam "panggilan jiwa" saya. Saya merasa cocok melakukannya. Namun, meski begitu, saya tidak memplot jalan saya seperti ini. Saya berusaha mencoba bekerja kantoran, kirim lamaran sana-sini, apalagi ijazah S-1 saya Sistem Komputer. Tetapi memang begitulah jalan rezeki. Saya tahu, Allah mau saya berusaha, tapi perkara hasil kita percayakan saja kepada Sang Sutradara. 



2. Siapa orang yang berada di balik kesuksesan Bang Ade sehingga bisa menjadi penulis sampai sejauh ini?

Orang tua saya sempat meragukan jalan kepenulisan yang saya tempuh ini. Emak khususnya. Orang tua tentu ingin masa depan anak-anaknya terjamin dan cerah. Saya paham kegundahannya. Saya sering kali berdiskusi kenapa saya ingin mengambil jalan berliku ini. Saya meminta waktu kepada Emak untuk membuktikan kepadanya kalau menulis mampu menghidupi--padahal mah Allah yang menghidupi kita. 


Saat ini mungkin belum bisa dikatakan sukses, tapi paling tidak saya sudah settle sebagai penulis dan bangga menyebutkan sebagai profesi utama saya. Kalau Bapak, sejak awal beliau percaya saya bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya pilih. Pesannya selalu sama: Jangan tinggalkan salat. Jadi, pada akhirnya keluargalah yang selalu mendukung saya. Termasuk juga guru-guru menulis saya di Komunitas Rumah Dunia. 



3. Pengalaman unik apa sih yang tidak pernah terlupakan dan belum pernah diceritakan selama berprofesi menjadi penulis?


Pertanyaan ini paling sulit saya jawab. Mungkin pernah atau bahkan banyak, tapi saya lupa, euy. Nanti kalau saya ingat saya bisikin, ya. Yang jelas, entah ini menjawab itu atau tidak, saat saya mau ambil perumahan subsidi, profesi penulis atau seniman itu tidak bisa di-ACC. Karena konon tidak ada jaminannya--entah kebijakan sekarang, ya. Jadi, agak miris saja, sih, profesi kami seperti dipandang sebelah mata sementara negara tetap mematok pajak yang cukup besar dari buku-buku atau karya-karya yang seniman hasilkan.



4. Oh, iya kabarnya Bang Ade ikut Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) kategori Novel ya? Kok, bisa? Bukannya dulu pernah ikut Mastera Cerpen, ya? 


Nah, ini mesti saya luruskan. Saya alumni Majelis Sastra Asia Tenggara Kategori Cerpen tahun 2018. Sekira dua tahun lalu, saya dipilih mewakili angkatan saya untuk acara "Temu Alumni". Ketika itu dibentuklah kepengurusan alumni untuk penulis Mastera (saya belum bisa sebutkan namanya) yang diambil dari perwakilan dari setiap angkatan. Di tahun ini, rapat kerja pengurus diagendakan berbarengan dengan peserta Mastera Novel, tapi saya tidak ikut pelatihannya. Kami punya agenda sendiri. Di hari terakhir, kami diminta menyampaikan hasil rapat kepada peserta dan panitia yang hadir saat itu. Jadi begitu ceritanya, semoga Kang Encep paham, ya. Hehe.



5. Sebenarnya Bang Ade ini fokus menulis di bidang apa, sih? Novel ditulis, cerpen ditulis, puisi ditulis, esai ditulis, skenario film ditulis. Bisa dijelaskan?


Di awal karier, sekitar tahun 2012 akhir, saya menulis puisi. Ikut lomba-lombanya dan lolos untuk dibukukan atau dimuat media. Lalu saya mencoba menulis cerpen dan sampai hari ini buku cerpen saya paling banyak terbit. Saya coba lagi menulis novel, esai, skenario, ulasan film, termasuk buku biografi tokoh-tokoh. Apa pun yang berkaitan dengan menulis, saya coba. Pada akhirnya, ilmu menulis yang saya pelajari bisa dielaborasi ke berbagai medium. Saya cukup mempelajari format dan teknisnya saja, tapi secara isi tetap bercerita tentang banyak hal. Saat ini memang ingin lebih serius terjun ke dunia perfilman dan periklanan, makanya saya kuliah S-2 Screenwriting dan Copywriting. Belajar tak kenal henti.



6. Amalan apa sih yang Bang Ade lakukan agar tetap mood menulis dan survive menjadi penulis? 


Sering saya katakan, saat ini saya di posisi mau putar balik terlalu jauh jalan yang mesti ditempuhnya. Jadi di-survive-survive-in aja pada akhirnya. Toh, pintu-pintu rezeki itu satu per satu bermunculan. Dan saya tidak menutup diri untuk selalu di jalur ini, kalau Allah kasih kesempatan bekerja di bidang lain, tentu akan saya lakukan. Sebetulnya di tahun 2019, saya sempat terpikir untuk berhenti menulis (dan saya pernah menulis ini di blog sendiri). Namun, suatu hari teman saya berkata bahwa sayang sekali dengan ilmu yang sudah Allah titipkan ke saya jika kamu berhenti menulis. Dari sanalah saya termenung dan bisa jadi memang jalan ini yang Allah ridai karena saya merasa dimudahkan banget jalannya. Apalagi di awal-awal merintis, cukup banyak hal-hal mengejutkan yang terjadi di karier menulis saya.



7. Bang Ade, berapa honor terkecil dan terbesar yang pernah Anda terima selama menjadi penulis buku, pemenang lomba menulis, atau narasumber kepenulisan? Apakah jalan menjadi penulis sejauh ini sangat mencukupi kebutuhan Bang Ade?


Sejujurnya saya mulai merasa bisa bertahan di dunia kepenulisan ketika memasuki tahun ke-8. Undangan menjadi narasumber, workshop menulis, menang lomba, menjuri lomba, dapat projeck film dan buku perlahan-lahan berdatangan. Pepatah money follows knowladge itu benar adanya. Alhamdulillah saya sedang merasakan ada di tahap itu. Honor terkecil ya dapat ucapan terima kasih aja, honor terbesar alhamdulillah sudah pernah di tiga digit. Kalau kata Allah cukup, saya manut aja. Karena pernah saya sok-sok “ngatur” hidup saya, yang ada keteteran sendiri. Prinsip saya saat ini adalah fokus pada pekerjaan atau hal yang bisa dilakukan sekarang dengan memberikan performa terbaikmu--terlepas honor kecil maupun besar.



8. Apalagi yang mau Bang Ade kejar di karier kepenulisan?


Saat ini, dan mungkin di setiap momen akan berbeda jawabannya, saya sedang ingin fokus di dunia perfilman khususnya penulisan skenario film. Medium seni yang kompleks ini benar-benar bikin gairah menulis saya terus meningkat. Saat saya belajar langsung dari ahlinya, ternyata menulis skenario tuh bukan “cuma kayak gitu” yang sering temen-temen saya bilang. Katanya “buat apa kuliah film, kamu kan udah bisa nulis skenario sendiri?” Stigma itu terpatahkan. Mereka bisa bicara begitu karena mungkin tidak merasakannya langsung. Saat dapat materi tentang film, mata saya tuh “menyala”, ini tuh seperti apa yang saya bayangkan selama ini. Belajar sesuatu yang kita senangi, meskipun melelahkan, tapi sangat sebanding. Capek, tapi bikin kita bahagia. 



9. Bang Ade, adakah pengalaman spiritual yang membuat jiwa Bang Ade bergetar, bahkan mencapai hakikat--atau malah sampai makrifat kepada Tuhan-- saat melakoni peran sebagai penulis?


Kalau dibatasi sebagai penulis, saya rasa tidak ada. Tapi, sebagai manusia utuh, saya cukup sering mendapatkan pengalaman spiritual atau entah apa sebutan tepatnya. Suatu hari, ketika menemani dua kawan saya menemui seorang peramal, si peramal itu mudah sekali membaca garis tangan mereka. Saya sendiri awalnya tidak mau, tapi teman saya bilang sodorkan saja tanganmu. Saat saya lakukan itu, si peramal tampak seperti orang yang bertemu peramal lain. Entah apa maksudnya, seingat saya dia bisa tahu saya dari Banten dan memilih menjabat tangan saya dan mengurungkan niatnya membaca garis tangan saya. Dia bilang dulu dia bergurunya pun di Banten. Ini pengalaman ganjil saja dan tampaknya tidak menjawab pertanyaan itu. Hehe.



10. Pertanyaan terakhir, mohon jawab jujur. Bang Ade punya pacar nggak, sih?


Nggak punya.



______


(Penyaji Pertanyaan: Encep)

Tuesday, January 23, 2024

Sosok Inspiratif | Iyus Yusandi, Guru Penggerak Literasi di Jabar

 


Drs. Iyus Yusandi, M.Pd. merupakan salah sosok guru penggerak literasi di Jawa Barat. Pergerakannya sangat masif sehingga banyak guru yang terinspirasi. Komunitas yang digawanginya itu bernama KPPJB (Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat). Pengin tahu lebih banyak? Yuk, kita simak!


_________



1. Sejak kapan Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB) terbentuk? Apa yang melatarbelakangi komunitas ini hadir di dunia ini?


Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat lahir pada tanggal 19 Maret 2020, Akta Notaris nomor 20 tanggal 19 Maret 2020 dengan notaris Mangasi Sotarduga Tambunan, SH. Disahkan SK Kemenkumham : Nomor AHU-0005449.AH.01.04.Tahun 2020. Terdaftar resmi sebagai penerbit di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 


Para pegiat literasi di Jawa Barat sudah sejak lama bergerak sendiri-sendiri di tiap kota masing-masing. Mengajak anggota masyarakat untuk belajar menulis, membuat buku, dan mengembangkan kreativitas dari membaca buku. Perjuangan ini dilakukan di berbagai kota, misalnya di Bekasi, pada tahun 2017 terbentuk Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya, lalu di Purwakarta terbentuk Komunitas Penulis, di Subang komunitas para pegiat literasi bergerak dari bawah. Begitu juga di kota-kota lain baik secara individu maupun kelompok. 


Dari curhat masing-masing pegiat kita saling berkomunikasi dan berbagi. Lalu terbersitlah ide yang merupakan pemikiran bersama agar kita menyatukan kekuatan di Jawa Barat. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya dobrak bagi perjuangan para pegiat literasi di tingkat provinsi. Hal ini menambah semangat masing-masing guru penulis (pegiat) untuk mulai mengondisikan kotanya masing-masing. Bersiap untuk keajaiban dari kata “Persatuan”. Bersatu menambah mutu. Di komunitas ini kita saling menyemangati anggota untuk menulis. Ingat pepatah bahwa bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Satu lidi tidak bisa menyapu halaman. Namun seribu lidi bisa menjadi sapu yang akan membersihkan ribuan halaman. Akhirnya disepakati membentuk Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB).



2. Sebagai penggerak literasi guru-guru di Jabar, sulit tidak sih Pak Iyus dkk. dalam membina rekan-rekan guru di sana untuk menulis? Kelihatannya gampang sekali mengumpulkan karya mereka padahal dunia guru saya kira sangat sibuk. Kok, bisa mereka tertarik menulis puisi akrostik?

       

Dinamika kehidupan terutama ke-literasi-an dalam hal tulis-menulis tiada beda dengan ombak samudra yang selalu datang dan pergi. Sekali ombak datang diikuti dengan kepergian ombak.

 


3. Komunitas KPPJB ini kan punya penerbit khusus, kenapa naskah karya guru-guru juga dilepaskan ke penerbit lain. Kenapa tidak fokus di satu Penerbit KPPJB? Btw penerbit mana saja yang punya kontribusi besar dalam perkembangan komunitas ini? 

       

KPPJB bermitra dengan sejumlah penerbit di bawah asuhan IKAPI. KPPJB menjalin kerja sama dengan kurang lebih sekitar delapan penerbit. Pencetakan buku antologi bersama pun demikian.



4. Untuk menerbitkan sebuah buku, apalagi antologi, pasti sangat pusing, terutama dalam memanajemen keuangan. Nah, bagaimana cara Pak Iyus dkk. mengatur keuangan dalam penerbitan buku karya para pendidik ini? Tentu ini sesuatu yang sensitif. Kalau kurang berkenan, boleh tidak dijawab.

       

Ajang menulis bareng dalam sebuah antologi bersama diajukan secara suka rela. KPPJB melalui koordinator acara atau pengasuh kelas menulis hanya mengajak dan mengabadikan momen seiring perkembangan situasi kekinian dalam lingkungan secara nasional, regional, bahkan internasional. Menulis bareng pun terakomodir dengan biaya bervariasi, sevariatif jumlah penulis dalam antologi bersama tersebut. Pembiayaan dipengaruhi jumlah kontributor penulisnya.



5. Pertanyaan terakhir, nih. Apa sih pesan dan harapan Pak Iyus kepada rekan-rekan guru di luar sana agar mereka juga bisa mengikuti jejak Pak Iyus dan dkk. dalam menggerakkan semangat berliterasi, khususnya para guru. Guru kan yang notabene dicap sebagai pemikir, masa iya tidak punya buah pikiran, begitu, ya. Minimal bisa menulis satu buku seumur hidup. Bagaimana Pak?

        

Pesan saya, "Tetap kawinkan pikiran, perasaan dengan pancaindra hingga lahir anak yang bernama karya. Tetaplah abadikan gagasasn dan rasa dalam aksara."


Harapan saya, Menulislah dulu, menulis lagi, menulis terus hingga dalam satu tahun minimal seorang guru memiliki tabungan tulisan dalam buku yang cetak bukunya menggunakan logo Parasamya agar bisa masuk even Parasamya Susastra "Penghargaan Penulis Buku Tunggal" dan atau Parasamya Suratma alias "Penghargaan Pegiat Literasi" serta Parasamya Praja Nugraha alias "Penghargaan Pelajar Penulis".


______

Redaksi 

Tuesday, November 14, 2023

Sosok Inspiratif | Ariansyah | Pejuang Masyarakat di PDK

 


Ariansyah, terlahir dari keluarga sederhana di sebuah perkampungan, tepatnya di Ds. Ujan Mas, Kec. Bukit Kemuning, Kab. Lampung Utara pada 24 Agustus 1990 malam Jumat Kliwon. Anak kedua dari empat bersaudara, pasangan dari Ibu Asnawati & Alm. Bapak Nendi. Saat ini, beliau tinggal di Perumahan Puri Delta Kiara (PDK) Blok DH 18 Gang Sultan Maulana Yusuf sebagai sosok yang aktif bermasyarakat.


Sosok yang biasa akrab disapa Mas Ari ini adalah mantan Ketua RT 02 PDK, juga pernah menjadi Panitia Pembangunan Masjid PDK, tentunya banyak sekali pengalaman dan kiprahnya di masyarakat.


Pengin tahu lebih jauh tentang beliau, yuk ikuti! Cekidot!


________


1. Sebagai orang yang paling aktif di masyarakat, khususnya di Perumahan Puri Delta Kiara, Walantaka, Kota Serang, apa sih yang Mas Ari rasakan dan dapatkan? 


Diri pribadi ini merasa bukanlah menjadi orang yang aktif, tapi lebih ke ingin menjadi orang yang bermanfaat. Untuk menjadi orang baik, cukuplah kita perbanyak diam. Tapi untuk menjadi orang yang bermanfaat, kita harus aktif dan mau bergerak bersama masyarakat. Yang dirasakan tentu capek & lelah. Karena ketika kita sudah mempunyai niat ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, kita harus sudah siap memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi kita untuk kebutuhan masyarakat sesuai kemampuan kita. Padahal tidak ada uang/materi yang kita dapatkan, tapi kebahagiaannya adalah ketika kita bisa melihat dampak positif atas apa yang kita lakukan dan kita berikan untuk masyarakat. Hal itu tidak terhitung dengan sesuatu apa pun.



2. Sejak kapan Mas Ari berkecimpung aktif hidup bermasyarakat dan jabatan apa saja yang pernah Mas Ari emban atau kegiatan apa saja yang pernah Mas Ari kerjakan? Beratkah menjalani amanah tersebut?


Saya aktif di kemasyarakatan ketika saya melihat seorang sosok Pak Ustaz Saefudin Zuhri yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya, sebagai guru saya, sebagai kakak saya, sebagai rekan saya. Dengan kapasitas keilmuan yang beliau miliki terlihat tampak jelas betapa bermanfaatnya hidup beliau di masyarakat, membuat saya iri dengan beliau. Lalu saya memberanikan diri untuk berbicara ke beliau bahwa saya ingin menjadi murid beliau dan ingin hidup bermanfaat seperti beliau. Hari demi hari beliau mendidik saya, melatih saya, tanpa saya sadari bahwa beliau sedang membentuk karakter saya dan mengenalkan dunia kemasyarakatan kepada saya di mana ketika menjadi seorang tokoh masyarakat kita harus melihat sesuatunya dari semua sudut, bukan hanya dari sudut orang terdekat kita, kelompok kita dsb. 


Jabatan/amanah yang pernah saya emban, yaitu 


(1) Ketua Pembangunan Masjid Al-Hidayah PDK. Di mana pada masa itu masjid mempunyai hutang ke toko material sebesar kurang lebih Rp91 jt-an ex pembangunan masjid tahap 1 & 2. Tentu itu menjadi tantangan tersendiri di mana saya dan tim yang menjadi panitia pembangunan masjid harus melunasi hutang masjid dan juga harus terus melakukan pembangunan masjid. Alhamdulillah dengan support para tokoh masyarakat, para guru, para pemangku jabatan & masyarakat PDK, hutang dan pembangunan masjid selama di kepengurusan kami berjalan dengan baik dan lancar. Dengan waktu kurang lebih 1 tahun, hutang masjid lunas dan pembangunan masjid berjalan dengan baik. 


(2) Sebagai Ketua Dana Duka sekaligus Ketua RT 02 PDK. Semua amanah tsb. mulai dari ketua pembangunan masjid, ketua dana duka dan ketua RT, saya jalani dari hati dan saya pasrahkan semuanya kepada Allah Swt. Karena bagi saya, apa pun amanah yang diemban baik itu sebagai ketua RW, ketua RT, ketua DKM, ketua dana duka, ketua muslimah dsb. adalah pekerjaan sosial. Di mana kita ikut berkecimpung di situ karena panggilan sosial dari dalam hati, tanpa memikirkan apa yang akan kita dapatkan baik itu berupa gaji, berupa pujian dsb. Karena semuanya dijalankan dari hari maka tidak ada sedikit pun amanah yang dirasa berat. Kalaupun selama mengemban amanah terdapat halangan rintangan dan cobaan, hal itu merupakan hal yang biasa, dan hal itu selalu ada solusinya ketika kita mau mendengarkan arahan para guru, para tokoh kasepuhan, para pemangku jabatan terkait, dll.





3. Menurut Mas Ari, apa sih arti hidup buat Mas Ari? 


Bagi saya yang terlahir dari keluarga yang merupakan bukan ahli ilmu, bukan ahli ibadah, yang lahir dari keluarga tidak mampu dan dari perkampungan kecil yang jauh dari kemewahan, maka arti hidup bagi saya adalah bagaimana menjadi seorang hamba yang bisa menghambakan diri di setiap waktu kepada Sang Pencipta yaitu Ilahi Rabbi. Berusaha semaksimal mungkin menjadi seorang hamba yang baik dan bermanfaat, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.



4. Oh, iya katanya Mas Ari sedang mencalonkan diri menjadi Ketua RW di Puri Delta Kiara ya? Wah, seru sekali ya kayaknya. Kapan itu pencoblosannya dan di mana? Seandainya Mas Ari menang, apa yang pertama kali Mas Ari lakukan dan benahi? Begitu juga kalau kalah?


Pencoblosannya dilaksanakan pada 03 Desember 2023. Tempat TPS-nya di posyandu dan Balai Riung Warga RW 06.


Bila saya menang, yang pertama kali akan saya lakukan adalah mengucap "innalilahi wainna ilaihi raajiuun". Dan yang pertama kali akan saya benahi adalah mengenai kepengurusan, khususnya di kepengurusan inti tim ke-RW-an dan semua sistem yang sudah ada yang dirasa kurang baik dan butuh perbaikan. Karena dalam mengurus suatu organisasi, yang terpenting adalah support system. Ketika suatu organisasi sudah diberikan support system yang bagus dan juga diisi oleh SDM yang mempunyai pola pikir maju, maka kemungkinan besar untuk menuju keberhasilan terbuka lebar.


Kalau saya kalah, saya akan saya mengucapkan "syukur alhamdulillah" karena saya yakin hal itu adalah takdir terbaik yang Allah berikan kepada saya. Saya akan mengajak diri pribadi saya dan para pendukung untuk memberikan support system terbaik kepada calon ketua RW terpilih.



5. Pertanyaan terakhir nih Mas Ari, apa pesan Mas Ari untuk para lawan dan umumnya untuk masyarakat terkait pemilihan RW dan kemajuan Puri Delta Kiara?


Saya berpesan kepada diri saya pribadi, kepada para pendukung saya, dan juga kepada tim lawan serta seluruh warga PDK, mari kita berpolitik yang santun. Kita tidak perlu menjelek-jelekkan dan merendahkan calon lawan baik calon ketua RW-nya maupun pendukungnya. Kita hanyalah lawan sebatas di kontestasi saja, selebihnya kita adalah kawan. Tetap kondusif, tetap jaga silaturahmi.


Ayo, kita sukseskan Pemilihan Ketua RW 06 PDK, jangan lupa tanggal 03 Desember untuk datang ke TPS. Cobloslah calon pemimpin ketua RW 06 PDK sesuai hati nurani, gunakan hak suara Anda dengan bijak karena 1 suara anda berpengaruh untuk masa depan PDK 5 tahun ke depan.



___________


(Redaksi, Encep)


Tuesday, November 1, 2022

Sosok Inspiratif | Aldi Reihan | Inisiator Fino Badut



Aldi Reihan, Lahir di Ciomas pada 06 Februari 1997. Ia merupakan Alumni Penerima Beasiswa Bidikmisi di Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah UIN SMH Banten. Juara 1 Pemuda Pelopor Bidang Agama Sosial dan Budaya Tingkat Provinsi Banten dan Delegasi Provinsi Banten dalam Pekan Kreativitas Pemuda Indonesia (PKPI) Tahun 2022.


Langsung saja kita kepoin kuy!


1. Kak, Fino Badut itu Komunitas yang bergerak di bidang apa sih? Dan kapan didirikannya?


Fino Bergerak dalam Bidang Sosial Kebencanaan, menghibur anak-anak penyintas bencana untuk pulih dan ceria kembali. Fino badut berawal keresahan anak muda melihat anak-anak penyintas Tsunami Selat Sunda di Labuan, hingga akhirnya memakai kostum untuk menghibur pada Selasa, 25 Desember 2018.



2. Apa sih yang memotivasi Kak Aldi menginisiasi Fino Badut ini?


Yang memotivasi untuk menginisiasi Fino badut adalah bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik/fasilitas, akan tetapi dampak psikologis juga. Sehingga pentingnya untuk diintervensi, terutama pada anak-anak. memori bencana akan teringat dan mengganggu kehidupan di masa yang depan, sehingga pentingnya upaya untuk memulihkan (trauma healing).


Saya dan para relawan memilih untuk menggunakan badut sebagai media penyampai pesan agar komunikasi berjalan efektif, menciptakan kesan ceria inilah yang dibawa Fino badut.




3. Aku kepoin IG fino_badut, di sana tertulis bahwa "tidak menerima jasa ulang tahun, hanya untuk kegiatan sosial" itu maksudnya seperti apa ya?


Badut identik dengan ulang tahun (komersil), namun lain halnya dengan Fino badut yang berfokus pada sosial kebencanaan. Menolak untuk mengisi ulang tahun, karena difokuskan untuk sosial kebencanaan. 



4. Apa aja sih kendala yang sering dihadapi dalam menjalankan Fino Badut ini?


Kendala yang dihadapi itu terkait transportasi untuk menjangkau daerah daerah di pelosok, membutuhkan armada yang layak agar tidak kehujanan/kepanasan kostumnya. selain itu kendala yang lain adalah regenerasi, karena tak banyak orang yang mau memakai kostum. Namun, seiringnya berjalan waktu dan banyaknya kegiatan, banyak orang yang tergerak untuk bergabung. 



5. Pengalaman menarik apa yang pernah dialami selama menjadi Fino Badut?


Kolaborasi menjadi pengalaman menarik, terutama kolaborasi dengan influencer Kak Nadya Indry dan Lutfi Agizal untuk berbagi keceriaan melalui "Gerakan Seribu Senyum".


Selain itu, hal menarik lainnya adalah mempunyai lagu khusus "Badut Fino" karya Arie Solois. Digagas untuk anak-anak Indonesia agar cerah menceriakan. 




6. Denger-denger Fino Badut baru saja menerbitkan buku yang berjudul KolaborAksi Kebaikan untuk Negeri, boleh gak sedikit bercerita itu buku tentang apa ya?


Buku ini merupakan catatan perjalanan relawan Fino Badut dan kawan-kawan berbagi keceriaan pada anak-anak penyintas bencana. Ditulis oleh 17 Relawan dan Partner Kolaborasi dari berbagai lintas profesi dan organisasi. Diharapkan buku ini menjadi inspirasi agar memberikan manfaat sesuai dengan kemampuannya lewat jalur KolaborAksi (Kolaborasi dan Beraksi) dalam kebaikan.



7. Pesan apa yang ingin disampaikan kepada para pembaca NGEWIYAK?


Setiap orang punya caranya masing-masing untuk memberikan manfaat pada orang lain, agar dampaknya lebih luas maka penting untuk berkolaborasi dalam kebaikan. 


Jangan pernah merasa sendirian dalam kebaikan, percayalah bahwa orang baik akan bertemu dengan orang baik lainya untuk mencapai tujuan kebaikan.



______


(Penyanji Pertanyaan: Anggun Tirta Rani)


Wednesday, August 17, 2022

Sosok Inspiratif | Adhit Cahyo Prasetyo | Founder SIEP (Social Inclusive Education Project)

 


Adhit Cahyo Prasetyo S.Pd., lahir di Serang, 30 April 1998. Ia merupakan alumnus Universitas Pendidikan Indonesia, Jurusan Pendidikan Khusus. Saat ini selain mengajar sebagai guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus, Adhit juga aktif membawa nilai-nilai pendidikan inklusi ke desa bersama Social Inclusive Education Project (SIEP). Dengan upaya yang dilakukannya, ia berkesempatan untuk mengikuti Leadership Training selama lima minggu di Amerika Serikat melalui program YSEALI untuk mengembangkan manfaat SIEP agar dapat diterima lebih luas di Indonesia.


Langsung saja kita kepoin Kak Adhit yuk, cekidot!


______


1. Kak, SIEP itu komunitas yang bergerak di bidang apa, sih? Dan sejak kapan didirikannya?


Jawab: SIEP itu komunitas fokus pada mempromosikan pendidikan khusus ke desa-desa yang ada di Indonesia. SIEP sudah berdiri sejak tahun 2019 hingga saat ini.



2. Apa sih yang menjadi latar belakang berdirinya SIEP? Siapa saja pihak yang terlibat dalam mendirikan komunitas ini?


Jawab: Latar belakang SIEP berangkat dari rendahnya kesempatan belajar untuk anak berkebutuhan khusus di pedesaan untuk belajar sesuai dengan jenis kebutuhannya.



3. Berbicara tentang program nih Kak, di SIEP itu kegiatannya seperti apa ya?


Jawab: Di SIEP kita menyebut anak-anak berkebutuhan khusus yang belajar bersama SIEP memiliki panggilan adik SIEP. Mereka akan belajar sesuai dengan jenis kebutuhan khusus yang mereka miliki. 



4. Ada gak sih kendala-kendala yang dirasakan ketika mendirikan SIEP ini?


Jawab: Kendalanya dalam menjalankan SIEP lebih pada controlling-nya ya, karena semuanya jalan secara online dan jarak jauh. Jadi harus betul-betul engangement-nya.



5. Denger-denger, SIEP ini sudah tersebar di beberapa daerah ya Kak? Daerah mana saja kah itu? Dan gimana sih caranya kalau kita mau bergabung jadi bagian dari SIEP?


Jawab: Iya alhamdulillah, untuk saat ini SIEP sudah berkembang di beberapa daerah. Pertama kali SIEP ada di Purwakarta, lalu berkembang ke daerah lain seperti Subang, Bandung, Bali, Bekasi, Serang, dan ada beberapa kota yang kita masih coba untuk jangkau untuk dilaksanakan kegiatan voluteer SIEP.



6. Sebagai seorang founder, bagaimana cara Kak Adhit memenuhi anggaran dana komunitas ini? Melihat sejauh ini SIEP sudah tersebar di beberapa daerah, pastinya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.


Jawab: Untuk memenuhi anggaran kami open donation kepada publik untuk memberikan hadiah dan media Pembelajaran untuk adik SIEP. Sedangkan untuk operasional memang kami masih menggunakan dana pribadi dalam pelaksanannya. Insyaallah ke depan kami juga akan mencoba untuk mengajukan kerja sama ke perusahaan yang ingin beerkontribusi pada isu pendidikan inklusi.

 


7. Sebagai komunitas yang bergerak di bidang pendidikan inklusi, ceritain dong Kak pengalaman serunya selama membangun komunitas ini.


Jawab: Serunya kita bisa bertemu dan belajar bersama adik-adik SIEP yang sangat semangat untuk belajar bersama kita dan juga sangat penuh rasanya saat mendengar respons dari orang tua anak yang meminta kita untuk datang kembali mengajarkan anaknya.



8. Ternyata Kak Adhit juga pernah mengikuti program YSEALI (Young Southeast Asian Leaders Initiative) di Amerika ya, Kak? Ceritain pengalamannya dong, Kak, ketika mengikuti program tersebut.


Jawab: Iya alhamdulillah mendapatkan kesempatan mengikuti program YSEALI untuk Spring 2023. Jadi ini pelatihan kepemimpan bagi mereka yang punya kepedulian terkait dengan isu Civic Engangement, Environment Issues and Natural Resources Management, Social Entrepreneurship and Economic Development. Jadi, kalau teman-teman punya kepedulian tentang isu-isu tersebut bisa banget untuk daftar program ini ya.



9. Terakhir, pesan apa yang hendak Kak Adhit sampaikan kepada pembaca NGEWIYAK?


Jawab: Terdapat banyak permasalahan di Indonesia saat ini. Selagi kita punya gagasan, tenaga, dan waktu luang, akan lebih bermanfaat jika kita sisihkan waktu kita untuk mengambil bagian dalam penyelesaiannya sekecil apa pun yang dapat dilakukan.



(Penyaji Pertanyaan: Anggun Tirta Rani)


Tuesday, August 9, 2022

Sosok Inspiratif | Ariny NH | Penulis Novel Produktif


Ariny NH merupakan nama pena dari penulis produktif bernama Ariny Nurul Haq. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Lahir di Solo, 16 September 1991. Tanggal lahirnya sendiri bertepatan dengan tanggal lahir Ariel Noah. Walau lahir di Solo, kini Mbak Ariny tinggal di Martapura, Kalimantan Selatan. 


Penulis satu ini sangat bercita-cita jadi penyiar radio loh. Tak heran bila ia juga sangat mengidolakan Pasha Ungu dan Ammar Zoni. Selain jadi penulis, ia juga memiliki beberapa usaha bisnis. Di antaranya, Arsha Cell (konter pulsa), Arsha Print (percetakan foto), dan Arsha Teen (penerbitan indie).


Adapun Mbak Ariny memulai karier kepenulisannya pada tahun 2012--sekarang. Dan sudah melahirkan banyak buku solo maupun antologi, di antaranya: Novel “Kuntilanak Gaul” (DeKa Publisher), Novel “Diantara Dua Pilihan” (Deka publishing, 2012), Novel “Ketika Cinta Semerah Darah” (Goresan Pena Publishing, 2012), Novel “Love Storm in Seoul” (Diandra Creative, 2012), Novel “Susan Ngesot” (Diandra, 2013), Novel “Ketika Hati Merelakan Cinta" (Diandra, 2013), Novel “Kukembalikan Cintamu” (Zettu, 2013), Novel “Kamu Adalah Cintaku” (Rumah Oranye, 2013), Novel “Kesempurnaan Cintamu” (Pena House, 2014), Novel “Pantaskah Gue Mencintainya?” (Anggota Ikapi, 2014), Novel “Misteri Hilangnya Hati Manusia” (Hamazah Book, 2014), Novel “The Real Prince” (Alif Gemilang Pressindo, 2014), Novel “Sumpah Cinta” (Arsha Teen, 2015), Novel “Cinta di 7 Keajaiban Dunia (Pena House, 2015), Novel True Story “Kau Begitu Sempurna” (Wahyu Qolbu, 2015), Panduan Menulis “1 Bulan 1 Novel? Siapa Takut!” (Arsha Teen, 2016), Novel “Sandiwara Cinta” (Arsha Teen, 2016), Novel “7 Misteri di Korea” (Arsha Teen, 2016), Novel “Blog Kematian” (Arsha Teen, 2016), Novel “September Wish” (Skylar Picture, 2018), Novel “Melepasmu Untuk Sementara” (Arsha Teen, 2016), Novel “Pengantin Galau” (Arsha Teen, 2016), Novel “Mr. Boros vs Miss Perhitungan” (Arsha Teen, 2017), Novel “Rindu Mantan” (Media Ilmu, 2017), Novel “Mr. Boros vs Miss Perhitungan” (Arsha Teen, 2017), Novel “Rindu Mantan” (Media Ilmu, 2017), Novel “7 Somplak Mengejar Primus” ( Arsha Teen, 2017), Novel “Malaikat Patah Hati” (Arsha Teen, 2017), Novel “Kacamata Kematian” (Arsha Teen, 2017), Nonfiksi “Bisnis Penerbit Indie? Gampang-Gampang Sulit” (Arsha Teen, 2017), Novel “Tukang Masak PD Selangit” (Arsha Teen, 2017), Novel “Diteror Mantan” (Arsha Teen, 2017)  dan Novel "Sahabat Tanpa Cinta" (Skylar Picture, 2018)


Wah, luar biasa kan? Yuk langsung saja kita kepoin Mbak Ariny. Cekidot!


_______


1. Bagaimana awal mula perjalanan Mbak Ariny bisa tertarik dan kemudian memilih terjun secara serius ke dalam dunia tulis-menulis ditengah keterbatasan fisik yang Mbak alami?


Kan abis lulus MTs., nggak bisa nyambung ke SMA. Sekolah banyak yang tingkat. Terus inget motivasi guru Bahasa Indo. Beliau bilang gue ada bakat nulis. Ya udah gue seriusin aja.



2. Dari puluhan buku yang telah Mbak Ariny lahirkan, baik berupa puisi, cerpen dan novel, buku apa yang paling membuat Mbak Ariny sendiri berkesan? Yang terkait isi maupun proses kreatifnya -- yang katakanlah membutuhkan energi penulisan "lebih intim" dari buku yang lainnya.


Buku yang ini "Kau Begitu Sempurna". Soalnya mesti membuka luka lama. Wkwkwk.



Penerbit: Wahyu Qolbu, 2015.



3. Lalu apa yang melatarbelakangi Mbak Ariny membuat penerbitan self-publishing bernama AT Press?


Karena nggak puas cuma bisa nulis aja. Apalagi penghasilan nulis, ya gitulah. Sekaligus biar enak menerbitkan naskah sendiri. Soalnya ditolak penerbit mayor mulu. Wkwkwk. Juga menebar ilmu yang bermanfaat. Terus untuk para penulis, terpacu semangatnya agar lebih baik lagi tulisannya.



4. Dari banyaknya karya yang telah Mbak Ariny lahirkan, apa sebetulnya makna menulis bagi Mbak Ariny sendiri?


Makna menulis ya healing. Menyampaikan sesuatu tersembunyi lewat tulisan.



5. Kalau boleh, bagi-bagi tipsnya dong, Mbak. Bagaimana cara menjaga napas kepenulisan dan berkarya supaya tetap produktif?


Rajin baca novel orang, rajin nonton film, serta perluas pergaulan dengan siapa pun.



6. Tahun 2016 silam, Mbak Ariny bersama 19 rekan yang lain telah dinobatkan Menkominfo sebagai Sosok Inspiratif yang membangun dan membuat perubahan di Indonesia melalui hasil karya serta pemanfaatan teknologi. Nah, apakah penghargaan itu sebelumnya pernah Mbak Ariny pikirikan dan impikan?


Ya kagaklah. Malah pas ditelepon cs t-sel aja, gue kira penipuan doang. Wkwkwk.



7. Di posisi Mbak Ariny sekarang yang sudah terkenal, apakah Mbak memiliki suatu perkumpulan/komunitas menulis sendiri di mana Mbak Ariny berposisi sebagai mentor mereka?


Kalau masuk grup-grup penulisan sih banyak. Tapi ya cuma nyimak. Gue lebih seringnya buka kelas berkaitan tentang literasi.



8. Pesan apa yang hendak Mbak Ariny sampaikan khususnya kepada pembaca NGEWIYAK dan umumnya kepada banyak orang di luar sana?


Nikmatin prosesnya walau jalannya berliku dan penuh drama. No manja dan no baper-baper club.



_____

(Penyaji Pertanyaan: Ray Ammanda).


Tuesday, May 31, 2022

Sosok Inspiratif | Ansar Siri | Penulis di KBM App

 


Ansar Siri, karyawan swasta yang gemar menulis di waktu luang. Karya-karyanya bisa dinikmati di KBM App. Suka posting tulisan-tulisan singkat juga di Instagram (@ansar_siri).



1. Sebenarnya, apa sih yang melatarbelakangi kak Ansar untuk menjadi seorang penulis?


Awalnya aku suka membaca. Lama-lama kepikiran untuk menulis cerita sendiri. Dari dulu pengin banget bisa nerbitin buku biar bisa dikenal banyak orang. Hehehe.



2. Untuk menjadi seorang penulis, tentu saja bukan hal yang mudah. Boleh dong ceritain bagaimana perjalanan Kak Ansar bergelut di dunia menulis?


Aku mulai nulis novel sejak SMA. Waktu itu teknologi belum secanggih sekarang. Internet masih sangat terbatas. Belum ada platform kepenulisan. Aku cuma nulis cerita di kertas HVS, ditulis tangan, lalu aku jilid sendiri. Kemudian dibaca bergilir teman-teman sekelas. Bahkan dipinjem sampai ke sekolah lain. 


Sampai akhirnya, 2016 mulai kenal beberapa komunitas menulis di FB. Dari situ mulai tahu alurnya kalau mau menerbitkan buku. Aku pun belajar dari teman-teman dumay yang udah berpengalaman. Dan alhamdulillah, 2016 bisa nerbitin buku perdana. Kemudian 2017 mulai nulis di Wattpad dan platform lainnya. Masih aktif sampai sekarang, tapi fokus di KBM App.



3. Di antara puisi, cerpen, novel dan esai, mana yang lebih Kak Ansar sukai? Dan apa alasannya?


Aku lebih suka novel. Dari awal aku merasa gaya tulisanku emang lebih cocok ke novel, sih. Jadi fokus ke situ. Lagian, zaman sekarang platform berbayar udah banyak banget. Dan yang bisa diposting untuk bisa menghasilkan uang rata-rata novel.



4. Salah satu karya Kak Ansar yang pernah diterbitkan adalah Petunia yang Berguguran di Hati Senja kalau boleh tahu, itu berisi tentang apa ya Kak?


Ini tentang cewek yang memendam luka batin akibat kesalahan yang telah diperbuatnya. Cinta buta yang akhirnya membuatnya harus hidup dalam kebohongan seumur hidup.



5. Nah, saya kepoin Kak Ansar, ternyata Kak Ansar ini penulis di KBM App, boleh dong kak ceritain pengalaman seru selama menulis di KBM App?


Jujur, nulis di KBM App benar-benar tantangan besar. Karena di sana cerita yang digemari drama rumah tangga, sementara sebelumnya aku sukanya nulis teenlit. Tapi karena aku serius mau coba di sana, akhirnya belajar nulis drama rumah tangga pelan-pelan. Dari situ akhirnya bisa ketemu teman-teman dan pembaca baru. Alhamdulillah, makin banyak yang kenal aku.



6. Pesan apa yang hendak Kak Ansar sampaikan kepada dulur NGEWIYAK?


Siapa pun bisa jadi penulis, bukan cuma dari golongan tertentu. Kuncinya cuma tekun dan selalu mencoba. Dan setiap tulisan akan menemukan pembacanya masing-masing.



_____

Penyaji Pertanyaan: Anggun Tirta Rani


Tuesday, May 17, 2022

Sosok Inspiratif | Arie Solois | Musisi Bertalenta dari Banten

 


Mengawali karier bermusiknya dari pengamen jalanan hingga panggung ke panggung adalah sebuah proses yang dilakukan Arie Solois dalam menyalurkan kecintaannya bernyanyi dan menciptakan lagu.


Nah, daripada dulur NGEWIYAK penasaran tentang sosok inspiratif ini, langsung saja yuk kita kepoin Kak Arie Solois, musisi bertalenta dari Tanah Banten. Cekidot!


______


1. Sejak kapan sih Kak Arie menggeluti dunia musik? Dan mengapa milih untuk menjadi seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu?


Sejak 2004, tepatnya saat saya duduk di bangku SMP saya sudah bermusik. Saat itu masih dalam format band sekadar untuk mengisi acara pentas seni dan festival-festival antarsekolah saja. Memilih menjadi penyanyi itu sejak tahun 2007, saat itu saya dipercaya oleh studio musik di Kompleks Graha Walantaka untuk menggarap satu single yang berjudul “Cinta” dengan format band juga yang saat itu bernama ML_std yang kala itu sering membawakan lagu-lagu dari Pak Ivan Yandriko pemilik Emil Studio.


Nah, kalau untuk berkarya dengan lagu sendiri saya sudah mulai di tahun 2013, pertama kali mengeluarkan single yang belum pernah rilis dan file-nya entah ke mana karena waktu itu era CD dan kaset. Tapi, saya masih sedikit ingat lagunya judulnya “Kenangan Terindah” biasa lagu buat mantan, di single itu pun mantan saya ikut mengisi suara juga, hahaha.



2. Untuk menjadi seorang musisi seperti sekarang ini, tentu saja bukan hal yang mudah. Boleh dong Kak ceritain bagaimana perjalanan Kak Arie dalam bermusik hingga akhirnya menjadi seorang musisi yang mempunyai banyak sekali karya berupa lagu.


Justru kalau di zaman sekarang lebih mudah nggak perlu demo ke label musik lagi, karena banyaknya aggregator yang siap menampung karya-karya pelaku seni. Tapi memang berbeda, tidak sekuat major label karena jatuhnya masuk ke golongan musik indie.


Berbicara perjalanan, pasti berbicara juga jatuh bangunnya Arie Solois di dunia permusikan. Nggak mungkin semua perjalanan mulus lurus tanpa belokan, tanjakan terjal, sampai lubang-lubang yang kadang menghambat dan menghentikan sejenak perjalanan itu sendiri. Saya sendiri mengalami up down. Sampai saat ini pun masih sering menemukan hal serupa, tapi kembali kepada niat. Saya sudah meniatkan musik adalah sajadah saya untuk ibadah, dengan tujuan mencari rezeki yang halal di dalamnya, membahagiakan dengan cara menghibur temen-temen lewat karya-karya saya. Dan yang paling saya tuju sih bisa bermanfaat buat diri, keluarga, dan sesama manusia hehe.


Dan semua itu kuncinya ada pada kekonsitenan kita sendiri. Berkarya itu penting, ibarat petani kalau nggak punya cangkul dan peralatan lainnya sulit rasanya untuk menggarap sawah. Mungkin bisa saja pinjam cangkulnya, tapi kan kita harus menyewa dan jangan berharap nyaman dengan cangkul pinjaman karena bisa saja tumpul, atau kepanjangan gagangnya dan bisa juga kependekan. 


Nah kalau karya sendiri, kita sudah punya senjata buat melakukan banyak hal. Jadi, saya sendiri menekan pada diri untuk terus berkarya. Syukur-syukur bisa dicontoh oleh orang-orang yang ada di dunia musik dan belum punya karya, gitu aja sih yah hehe.



3. Gendre musik seperti apa sih yang dipilih Kak Arie dalam setiap lagu-lagunya?


Kalau untuk genre saya belum bisa memfokuskan genre mana yang ingin saya jadikan genre tetap buat di setiap karya-karya saya. Karena kalau sudah memilih genre berarti sudah meng-kotak-kotakan dari beberapa kotak genre. Saya belum bisa memilih atau lebih senang menggarap all genre mana yang cocok dengan karakter lirik, irama, dan biramanya.



4. Denger-denger, Kak Arie baru saja merilis album baru, yakni "Patah". Nah, boleh dong Kak ceritain proses kreatif dari penciptaan album ini seperti apa?


Ini belum album sih. Baru single yang akan menuju pada mini album nantinya “amin” di single ini sudah menunjukan kepatahan rasa, yang nantinya akan diisi juga dengan tumbuhnya rasa, proses penyembuhan luka hati, dan lain sebagainya dalam konsep mini album nantinya.


Proses berkaryanya sendiri memang kalau dibenang merahi, "Patah" sendiri tercipta saat diri ini sedang tidak baik-baik saja mengenai rasa dan mengutamakan kekuatan lirik dengan mengonsep nada sederhana yang di kemas secara Balad. Itulah hasil dari prosesnya, bisa didengarkan langsung di semua store digital music streaming.



5. Sebagai seorang musisi yang sudah banyak penggemar. Ceritain dong Kak pengalaman seru yang pernah dialami selama bermusik dari panggung ke panggung.


Pengalaman serunya ya berada di dalam prosesnya itu sendiri sebenernya. Yang dulu hanya ngamen di kompleks, terus di bus, stay di tukang bakso, cafe to cafe. Sampai akhirnya bisa panggung ke panggung yang memang kalau dimimpikan, ini tuh mimpi saya waktu kecil banget.



6. Pesan apa yang hendak Kak Arie sampaikan kepada dulur NGEWIYAK?


Terus berproses dan berkarya. Jangan mengharap jadi apa-apa, biarkan apa-apa-Nya yang menjadikan hasil dari proses dan karya itu sendiri. Terima kasih juga kepada semua redaktur NGEWIYAK.com dan pimpinannya atas kesempatan baik ini. 


Dan jangan lupa dengarkan lagu "PATAH" di semua platform streaming musik digital. @spotifyasia , @itunes , @deezerasia , @youtubemusic , @ressoidn , dan @jooxid.



____

(Penyaji pertanyaan: Anggun Tirta Rani)